Jayalah Indonesiaku
Potret kejadian di tanah airku , serial code blog : ceBЯaHa

BRTI : ongkos produksi sms hanya Rp. 75,-

Selama ini kita menganggap wajar-wajar saja harga sms 250 rupiah ke atas. Hal ini karena 8 operator kompak untuk penetapan harga sms. Padahal BRTI mempunyai perhitungan jika ongkos produksi sms hanya Rp. 75,- . Ini secara langsung ataupun tak langsung juga merugikan customer dengan pemberlakuan fixed rate tersebut (di atas Rp 250,-). Disinyalir ada permainan harga akibat kuatnya kartel di bidang ini, dalam hubungan dengan kasus Temasek – Singtel. Mari kita protes untuk penurunan harga sms. Toh meskipun kita melihat pesatnya perkembangan bidang telekomunikasi, sehingga menyedot banyak tenaga teknis telekomunikasi kita, namun masih banyak kesenjangan gaji di industri tersebut. Artinya, meskipun kita menekan penurunan harga sms,  maka hanya berpengaruh pada penyedot kapital di manajemen puncak. BErikut petikan beritanya :

Besok, Kasus Kartel SMS Diperiksa
Kamis, 03 Januari 2008 | 01:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan memulai pemeriksaan lanjutan kasus dugaan kartel harga tarif pesan pendek (SMS) besok. Majelis pemeriksa bakal meminta keterangan pihak-pihak yang diduga terlibat dan mengetahui soal itu.

“Tanggal 4 kami mulai periksa,” kata anggota majelis pemeriksa kasus kartel, Erwin Syahrial, kepada Tempo kemarin. Tapi ia merahasiakan siapa yang akan diperiksa pada 4 Januari nanti. Seorang anggota staf KPPU bahkan menyatakan identitas saksi baru diketahui pada saat hari pemeriksaan.

Yang pasti, menurut Erwin, majelis yakin indikasi kartel harga cukup kuat setelah diketahui ada perjanjian antaroperator tentang tarif SMS. Perjanjian antaroperator itulah yang membuat konsumen mengalami kerugian akibat tarif yang mahal.

Nah, pada Jumat nanti KPPU akan mulai menyelisik perjanjian itu. “Akan kami lihat dari efektifitas perjanjian harga SMS.” ujarnya.

Sebelumnya, Erwin mengungkapkan pemeriksaan nanti fokus pada perbandingan harga antaroperator dan dengan luar negeri. Menurut perhitungan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, ongkos produksi SMS hanya Rp 75. Tapi faktanya Rp 250-350 per pesan.

Maka KPPU akan meminta keterangan delapan operator yang diduga terlibat kesepakatan mengenai tarif SMS. Operator-operator itu adalah PT Excelcomindo Pratama (XL),PT Telekomunikasi Indonesia(PT Telkom), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkomsel), PT Indosat, PT Hutchinson, PT Smart Telecom, PT Mobile-8, serta PT Bakrie Telecom. Majelis juga akan memeriksa ahli dan pihak-pihak yang mengetahui soal tarif SMS.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyatakan siap beradu perhitungan tarif SMS dengan operator. Menurut anggota BRTI Heru Sutadi, lembaganya memiliki data lengkap soal perhitungan ongkos produksi.

Ongkos produksi per SMS hanya Rp 75. “Sudah disetujui semua operator tahun lalu. Tahun ini bisa lebih murah lagi,” ucapnya lewat SMS kemarin.

Ia menanggapi tantangan Direktur Utama XL, Hasnul Suhaimi, beradu perhitungan tarif pesan pendek dengan pemerintah dan BRTI. Seperti diberitakan koran ini kemarin, Hasnul mempersilakan pemerintah menghitung dan menghasilkan tarif murah. Tapi jangan meminta tarif SMS dari operator murah. “Lebih baik adu perhitungan dan referensinya,” katanya.

Ia memastikan tarif sesuai dengan harga pasar yang mempertimbangkan volume penggunaan, layanan bicara (voice), dan biaya penjualan. Bahkan tarif di Indonesia lebih rendah ketimbang di luar negeri. Hasnul mencontohkan tarif di Eropa 16 sen Euro atau Rp 2.000 per SMS. “Setahu saya tak ada tarif pesan pendek di dunia di bawah 100 perak.” (Koran Tempo, 2 Januari)

Juru bicara PT Indosat Adita Irawati menampik anggapan perusahaannya memanfaatkan keleluasaan dari pemerintah. Menurut dia, memang sangat sulit menurunkan harga karena revenue hanya didapat dari pengiriman SMS. Sedangkan operator penerima tak memperoleh apa-apa. Berbeda dengan tarif interkoneksi suara, yang operator pengirim dan penerima memperoleh revenue.

Dian Yuliastuti

==========================================================================

KPPU Yakin Terjadi Kartel SMS
Rabu, 19 Desember 2007 | 02:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yakin terjadi persekongkolan delapan operator selular untuk membentuk harga (kartel) tarif layanan pesan pendek.

“Tentu saja kami yakin, kalau tidak pasti tak dilanjutkan ke pemeriksaan lanjutan,” kata Ketua KPPU Muhammad Iqbal kepada Tempo di Jakarta kemarin. “Tapi kami tak bisa menghakimi begitu saja. Perlu dibuktikan lebih lanjut.”

Ia menjelaskan, dalam pemeriksana lanjutan ini tim pemeriksa fokus pada mencari kerugian konsumen (consummer lost) akibat penetapan harga. Bukti pendukung seperti kerugian konsumen diperlukan setelah operator ramai-ramai mengelak ikut dalam perjanjian tarif pesan pendek (SMS). Padahal awalnya operator mengakui bukti-bukti berupa dokumen perjanjian yang saat ini berada di tangan komisinya.

Soal upaya menghitung costumer lost, kata Iqbal, bisa melalui analisa ekonomi berdasarkan tarif interkoneksi dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), yakni Rp 75 per SMS. Sementara delapan operator memberlakukan tarif SMS Rp 250-Rp 350. “Pembuktian seperti ini pernah kami lakukan pada kasus Temasek,” katanya.

Delapan operator itu adalah PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkomsel), PT Indosat, PT Hutchinson, PT Smart Telecom, PT Mobile-8, dan PT Bakrie Telecom.

Dua hari lalu, Iqbal menyatakan KPPU telah memiliki bukti kuat kartel tarif SMS. Bukti kuat itu didapat pekan lalu sehingga lembaga ini memutuskan melanjutkan pemeriksaan. “Pemeriksaan lanjutan untuk memeriksa saksi-saksi dan mendapatkan bukti yang lebih kuat,” ucapnya. Pemanggilan manajemen delapan operator tadi akan dimulai Januari nanti.

Iqbal membeberkan, KPPU menemukan dokumen perjanjian dan fakta-fakta pendukung. Fakta itu antara lain operator memberlakukan tarif Rp 250-Rp 350 per SMS, padahal BRTI menetapkan Rp 75.

Jika dugaan persekongkolan ini terbukti, menurut dia, operator-operator itu melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pasal tadi melarang pelaku usaha membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen pada pasar yang sama.

Operator seragam membantah tuduhan kartel. Juru bicara Telkom, Eddy Kurnia, menyatakan layanan SMS di Indonesia masih berbasis sender keep all (SKA) sehingga operator penerima SMS tak memperoleh benefit apapun. Padahal, banjir pesan pendek membebani operator yang dituju.

Untuk menghindari spamming antaroperator, kata dia, banyak promosi SMS on net dengan harga murah atau mengubah SKA menjadi pola interkoneksi.

Soal tarif versi BRTI, Eddy menilai BRTI menghitung berdasarkan perhitungan cost based, yakni SMS masih dianggap sebagai value added service, sehingga cost rendah. Sebab tak semua elemen jaringan yang digunakan diperhitungkan.

Direktur Marketing Indosat, Guntur S. Siboro, membantah perusahannya meneken perjanjian soal tarif SMS dengan operator lain. “Harga juga ditentukan oleh pasar dan positioning,” ujarnya. Mobile-8 dan Bakrie Telecom pun membantah kongkalikong mengatur harga.

Adapun Myra Junor, juru bicara XL, enggan berkomentar dengan alasan masih dalam pemeriksaan. Direktur Utama Hutchinson, Sidharta Sidik, setali tiga uang.

Peneliti dari Indef, Usman Hidayat, menyebut aksi delapan operator itu sebagai price fixing. Ini terjadi lantaran harga cenderung seragam karena dominasi salah satu operator. Nah, operator lainnya menikmati kondisi itu.

Price fixing merugikan konsumen,” ucapnya. Ia berpendapat homogenitas harga terjadi karena tak ada perbedaan struktur tarif.


Agoeng Wijaya | Yuliawati | Dian Yuliastuti | Munawwaroh

http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/12/19/brk,20071219-113828,id.html

Satu Tanggapan to “BRTI : ongkos produksi sms hanya Rp. 75,-”

  1. thx bgt pak bermanfaat tulisanya untuk tugas kuliah saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: