Jayalah Indonesiaku
Potret kejadian di tanah airku , serial code blog : ceBЯaHa

Mantan Presiden Suharto Kritis, Nafas Sempat Berhenti

Jakarta, Kompas – Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang
dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina tetap gawat hingga berita ini
diturunkan, Sabtu (12/1) dini hari. Mantan orang nomor satu RI itu
mengalami kegagalan multiorgan.

Menurut Ketua Tim Dokter Kepresidenan dr Mardjo Soebiandono SpB
bersama anggota dokter lainnya, kegawatan terjadi sejak pukul 17.00
ditandai dengan penurunan kesadaran, pernapasan yang memburuk, serta
tekanan darah yang menurun.

Pernapasan Soeharto menjadi cepat dan dangkal, sedangkan tekanan
darahnya turun hingga mencapai 90/45 mm Hg. Padahal, tekanan darah
Soeharto pada Jumat pagi masih mencapai 110-120/50 mm Hg.

Mardjo menegaskan, secara medis kegawatan tersebut disebabkan oleh
kegagalan multiorgan, antara lain otak, jantung, paru, dan ginjal.

Untuk mengatasi kegawatan yang terjadi, tim dokter memasang alat bantu
pernapasan atau ventilator. Beberapa jenis obat juga diberikan. “Tim
dokter masih berupaya semaksimal mungkin untuk kesembuhan Pak Harto,”
kata Mardjo, Sabtu pukul 21.00.

Mardjo menambahkan, setelah dilakukan pertolongan dengan resusitasi,
tekanan darah Soeharto kembali naik menjadi 130/70 mm Hg. Namun,
kondisi ini masih labil. “Kita tidak tahu sampai kapan kondisi labil
ini akan berakhir, yang ditandai dengan pelepasan ventilator,” kata
anggota Tim Dokter Kepresidenan, dr M Munawar SpJP.

Sekitar pukul 20.00, sempat beredar SMS bahwa Soeharto telah meninggal
dunia. Berbagai pihak menanyakan kebenaran informasi itu kepada Kompas.

Informasi itu membuat suasana di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP)
semalam menjadi sangat riuh. Lebih dari seratus wartawan dari dalam
dan luar negeri memadati ruang lobi RSPP.

Suasana semakin mencekam dengan kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla
dan Mensesneg Hatta Rajasa. Beredar informasi, Kalla hadir karena
ditugaskan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang masih di
Malaysia mengingat kondisi Soeharto sangat kritis.

Puluhan fotografer dan juru kamera pun berkumpul dan berdesak-desak
membidikkan kamera menunggu keterangan Kalla.

Ketika Kalla turun, mereka berdesak-desakan, bahkan sampai memecahkan
kaca meja komputer. Namun, Kalla tidak memberikan keterangan sedikit
pun. Hingga berita ini diturunkan, suasana masih mencekam, tetapi
beberapa pihak mengatakan, “Soeharto sudah melewati masa kritis meski
dengan dibantu alat.”

Sejumlah tokoh sipil dan militer juga terus berdatangan ke RSPP, di
antaranya Fadel Muhammad, Salahuddin Wahid, Wiranto, Prabowo, Maya
Rumantir, dan Regita Cahyani (Tata), mantan istri Tommy Soeharto.

Sabtu dini hari pukul 01.00, Jaksa Agung Hendarman Supandji tiba di RSPP.

Keluarga ikhlas

Menurut sumber Kompas yang berada di Lantai V RSPP, tempat Soeharto
dirawat, sekitar pukul 19.00 semua anggota keluarga sudah berkumpul,
sebagian dari mereka menangis. Pihak keluarga juga terus membacakan
Surat Yasin sepanjang malam di dalam kamar Soeharto. Pihak keluarga
sudah mengikhlaskan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.

Menurut keterangan banyak pihak, hanya keluarga dekat yang
diperbolehkan masuk Kamar 536, sedangkan pengunjung hanya menunggu di
Kamar 537 yang terletak di depannya.

Siang harinya, putra bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy
Soeharto, kepada wartawan menyampaikan ucapan terima kasih atas
perhatian yang diberikan berbagai kalangan terhadap ayahnya.

“Saya atas nama Pak Harto dan keluarga mengucapkan banyak terima kasih
kepada masyarakat Indonesia yang masih mendoakan beliau untuk sembuh
secara tulus ikhlas. Kami juga doakan agar mereka yang mendoakan Pak
Harto diberi balasan yang berlipat ganda,” kata Tommy yang datang ke
RSPP Jumat sore.

Saat ditanya proses hukum terhadap berbagai kasus yang menimpa
Soeharto, Tommy menegaskan bahwa keluarga masih memikirkan kesehatan
Soeharto terlebih dahulu. Masalah hukum Soeharto baru akan dipikirkan
setelah urusan kesehatannya selesai.

Berisiko tinggi

Menurut Munawar, dalam jumpa pers semalam, perkembangan jantung
Soeharto pada hari kedelapan perawatannya di RSPP seharusnya
menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Namun, kegawatan yang terjadi membuat tim dokter harus melakukan
penyelamatan dengan memasang ventilator dan melakukan resusitasi.

Dengan pemasangan alat itu, diharapkan kebutuhan oksigen akan
terpenuhi sehingga proses pemulihan segera terjadi. Pemasangan alat
itu juga diarahkan agar Soeharto dapat bernapas secara normal, yaitu
18 kali per menit.

Pada siang hari, tim dokter menilai pemasangan alat tersebut jauh
berisiko dibandingkan manfaatnya bagi Soeharto.

Saat ini kondisi bilik jantung sebelah kanan melebar dan tekanan darah
Soeharto belum stabil. Menurut Munawar, pada kondisi seperti itu,
pemasangan CRT bukanlah satu-satunya upaya untuk meningkatkan kerja
jantung.

Bahkan, Munawar mengatakan, pemasangan CRT pada Soeharto akan berisiko
tinggi.

Untuk saat ini, Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono
mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kondisi Soeharto, memperbaiki
keseimbangan cairan, obat-obatan, dan tetap menggunakan continuous
veno-venous hemodiafiltration (CVVHD).

Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam SMS-nya kepada
wartawan, disebutkan bahwa pemasangan ventilator justru akan membuat
“susah” pasien.

“Dalam keadaan yang sudah demikian payah, dipasang ventilator akan
susah karena bisa terjadi kehidupan ‘palsu’, yaitu penderita seperti
hidup. Alat-alat yang dipasang dan obat-obatan diberikan, padahal
penderitanya sebenarnya dalam keadaan koma. Menurut saya, kasihan
penderitanya, kasihan Pak Harto, mudah-mudahan Pak Harto diberi
kemudahan menghadap-Nya,” demikian pesan Menkes.

Menkes juga mengatakan, sekitar pukul 18.00, pihaknya diberi tahu
bahwa Soeharto sudah berhenti bernapas, tetapi kemudian pukul 21.00
mendapat laporan bahwa alat sudah dipasang.

Sangat lemah

Mardjo Soebiandono mengemukakan, kondisi umum Soeharto lemah. Meskipun
sadar dan sesak napas berkurang, mantan presiden itu ada dalam kondisi
kritis. Kadar oksigen dalam darah hanya mencapai 9,9 gram persen dan
meskipun foto paru-paru memperlihatkan ada perbaikan dibandingkan
sebelumnya, namun faal paru masih belum sepenuhnya membaik.

Ahli paru-paru yang menjadi anggota tim dokter, Prof Hadiarto,
mengungkapkan, membaiknya hasil foto paru-paru karena dokter
mengeluarkan makin banyak cairan yang ada di paru-paru Soeharto.
Namun, makin berkurangnya cairan dalam jaringan di luar pembuluh darah
di paru-paru itu belum cukup menggembirakan.

Tim dokter, saat ini, mewaspadai timbulnya infeksi paru-paru. Dokter
melihat ada tanda-tanda awal peradangan. Untuk mencegahnya, dokter
memberikan obat antiradang dan antibiotik untuk Soeharto.

Usia senja dan menurunnya banyak fungsi organ-organ vital Soeharto
membuat kondisinya belum membaik. CVVHD saat ini mengambil alih fungsi
ginjal Soeharto. Saat meninggalkan ruang pertemuan di lantai tiga
gedung sayap kanan RSPP, Mardjo Soebiandono kembali mengatakan bahwa
kondisi Soeharto kritis. (SUT/MZW/JOS)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/12/utama/4162546.htm
======================

Belum Ada Tanggapan to “Mantan Presiden Suharto Kritis, Nafas Sempat Berhenti”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: