Jayalah Indonesiaku
Potret kejadian di tanah airku , serial code blog : ceBЯaHa

Butet Kertaredjasa : Kematian Paman Gober

JAKARTA, KOMPAS – Tidak hanya dramawan Putu Wijaya yang tampil luar biasa dan memukau penonton lewat monolognya pada penyerahan FTI (Federasi Teater Indonesia) Award 2007 di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Rabu (9/1/2008) malam itu. Aktor Butet Kertaradjasa, yang kini dikenal sebagai pemeran Presiden Republik Mimpi, “SBY” alias Si Butet Yogya dalam serial parodi politik TV bertajuk News.com juga tampil luar biasa saat membacakan cerita pendek (cerpen) Kematian Paman Gober
 
Alkisah, kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek.  Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanyalah satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang di sana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah,” kata “Si Butet Yogya” alias “SBY”,  membuka cerita.
 
Ratusan pengunjung yang terdiri dari berbagai kalangan, seperti pengusaha sekaligus politikus yang kini menjadi ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir,  Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal, sejumlah seniman dan budayawan seperti WS Rendra, Garin Nugroho, Mudji Sutrisno, Tommy F Awuy, Didie Petet, Jajang C Noer, Leon Agusta, dan banyak pesohor lainnya, bagai tak sabar menunggu lanjutan cerita itu. Namun, pada umumnya, pengunjung sudah bisa menduga-duga siapa Paman Gober dan alur cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang ditulis pada tahun 1994 itu. 
 
Butet yang dikenal sebagai raja monolog dan seniman paling “rasional” itu, membawakannya dengan gaya yang kocak dan menghibur. Apalagi saat menampilkan Paman Gober bicara. Seperti biasanya intonasi dan warna suara tokoh yang mirip dengan kisah dalam fiksi itu, ia tirukan dengan sempurna. Membuat penonton tergelak-gelak. 
 
“Mestinya, bebek  seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Ma(ng)kanya, ketika saya diminta menjadi ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai berapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”
  
Butet pun melanjutkan pembacaan, dengan nada suara berbeda. “Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, ‘Pergulatan Batin Gober Bebek’, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mengisahkan Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan.”
 
Lagi-lagi gelak-tawa penonton meledak di ruangan yang berkapasitas sekitar 250 orang itu. Cerpen Kematian Paman Gober itu, dinilai Butet sangat pas dengan kondisi minggu-minggu ini.
 
“Ketika diundang tampil dalam perhelatan Putu Wijaya yang menerima FTI Award 2007, saya membaca milis Forum Pembaca Kompas yang mengutipkan cerpen Seno tersebut. Spontan saja, saya kopi, lalu minta izin ke Seno untuk membacakannya,” kata Butet, kepada Kompas,  Kamis (10/1). 
 
Sebagai aktor, kepiawaian Butet, anak ke-5 dari tujuh bersaudara keluarga seniman Bagong Kussudiardja ini, bermonolog dan memerankan tokoh dalam suatu lakon memang dikagumi banyak orang. Pria kelahiran Yogyakarya, 21 November 1961 ini, dikenal sebagai aktor teater. Teater menjadi basis berkesenian. 
 
“Putu Wijaya adalah orang yang menginspirasi dan membuat saya bergelimang dengan dunia teater. Padahal saya dulu menilai dunia teater itu gila. Saya pernah disuruh jalan pelan sejauh ini (ia menunjuk lebar panggung, sekitar tujuh meter) selama 30 menit. Gila!,” ujar Butet, yang pernah bergabung antara lain dengan di Teater Kita Kita (1977), Teater SSRI (1978-1985), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas Seni Kua Etnika (1995-sekarang). Puluhan repertoar pernah dilakukannya. Untuk monolog, sebuah cabang kesenian dari teater, sudah dikenal Butet sejak 1986.
 
Tentang Paman Gober tadi, pada akhir cerita disebutkan, “Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu: apakah hari ini Paman Gober sudah mati.”

Paman Gober yang agaknya “hanya” sebuah personifikasi.  (NAL)

Belum Ada Tanggapan to “Butet Kertaredjasa : Kematian Paman Gober”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: