Jayalah Indonesiaku
Potret kejadian di tanah airku , serial code blog : ceBЯaHa

Liberalisasi Industri Listrik: Karyawan PLN Ancam BlackOut (Pemadaman) Listrik

Ini adalah ancaman yang serius bagi kita. Seperti halnya ancaman bom, bisa saja ada bom, bisa saja tidak. Begitu juga dengan ancaman pemadaman ini, bisa jadi hanya gertakan bisa jadi benar.

Pada intinya, ada 2 issue di sini, yaitu liberalisasi dan Pemadaman Listrik. Indonesia yang merupakan negara tertingga, dipaksakan untuk di liberalisasikan di segala bidang. Pada kasus ini giliran perusahaan Listrik. Bila Bung Hatta masih hidup, beliau pasti menentang keras lemahnya sikap Indonesia ini di bawah tekanan dunia International.

Dengan Liberalisasi di segala bidang, Indonesia akan menjadi negara maju di masa mendatang, dengan penduduk miskin akan semakin kecil. Karena secara prinsip “Survival of the Fitest” maka maka yang lemah akan tersingkir / sulit untuk survive. Disini berarti mengedepankan prinsip-prinsip Thomas Robert Maltus untuk membunuh populasi untuk menciptakan kesetimbangan. Karena pada dasarnya di model liberalisasi, pada prinsipnya “No Benefit for the Poor”.

Hal yang kedua adalah Pemadaman Listrik besar-besaran adalah sangat tidak bijaksana, merugikan seluruh kepentingan umum. Ini bisa mengakibatkan permasalahan nyawa juga, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung bisa dilihat pada Rumah Sakit yang tentunya sangat membutuhkan listrik. Ini berarti sama saja mengancam nyawa masyarakat. Ini bisa jadi pelanggaran terhadap konvensi Geneva. Ya.. pada dasarnya mana sih negara yang mengedepankan HAM ? Negara Supepower yang katanya pro demokrasi dan pro HAM sendiri juga melakukan pembantaian-pembantaian dengan dalih apapun (dibuat.

What will be, will be …

http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=37633

Terkait liberalisasi pengelolaan listrik, karyawan PLN ancam demo besar-besaran
Tanggal :      08 Feb 2008
Sumber :      Harian Terbit

JAKARTA – Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil dinilai ‘mencla-mencle’ terkait upaya restrukturisasi PT PLN (Persero). Tak hanya itu, mantan Menkominfo itu dituding sebagai bagian dari “Mafia Berkeley” yang sejak awal bernafsu meliberalkan pengelolaan listrik di Indonesia, yang ujung-ujungnya hanya akan membebani rakyat banyak melalui kenaikan tarif dasar listrik.

“Karena itu kami dari SP PLN kini tengah menggalang kekuatan lintas LSM dan perguruan tinggi untuk demo secara besar-besaran dengan membawa ratusan ribu massa dari seluruh Indonesia. Aksi ini untuk mengawal agar PT PLN tetap dikelola tak hanya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, tapi juga berkewajiban melakukan pe-layanan publik secara adil dan manusiawi,” ungkap Ketua Umum SP PLN, Ir Ahmad Daryoko menjawab Harian Terbit, semalam (7/2).

Penilaian bahwa Meneg BUMN ‘mencla-mencle’ terkait dengan sikapnya yang sampai hari ini belum mengeluarkan Surat Keputusan Menteri atas pembatalan rencana restrukturisasi PLN, termasuk rencana pemisahan/pemecahan dua anak usahanya yaitu PT Indonesia Power (IP) dan PT Pembangkit Jawa Bali (PJB).

Yang ada, menurut Daryoko baru surat pemberitahuan, yang tak bisa dijadikan jaminan rencana tersebut tidak akan dilakukan.

Diakuinya, Sekertaris Meneg BUMN, Muh Said Didu, pernah mengatakan, masalah restrukturisasi PT PLN hingga kini masih dibahas di tingkat Menteri Koordinator Perekonomian dan belum ada keputusan resminya. Namun kenyataannya, menurut Daryoko, akhir-akhir ini direksi PT PLN terus mempersiapkan upaya pemecahan PT PLN menjadi banyak anak perusahaan, termasuk nantinya akan ada yang diserahkan kepada Pemda Tk I/Gubernur Kepala Daerah, sebagai perusahaan daerah.

Langkah ini semua dicurigai sebagai ‘akal-akalan’ untuk meliberalkan pengelolaan listrik di negeri ini.

Secara terpisah, Ketua DPP Serikat Pekerja Pembangkit Jawa Bali (PJB), Edy Hartono, mengakui, pihaknya akan tetap melakukan aksi jika pemerintah benar-benar akan melakukan pemisahan. “Black out atau pemadaman akan tetap kita lakukan sebagai penolakan pemisahan kapanpun itu bisa terjadi,” jelas Eddy.

Anggota komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy mendukung aksi pemadaman sebagai tindakan shock teraphy bagi pemerintah. “Pemadaman itu perlu sebagai shock teraphy terhadap arogansi direksi dan pemerintah,” ujarnya.

Pengamat ekonomi politik Ichsanudin Noorsy mengatakan, langkah akal-akalan pemerintah ini dalam rangka penerapan Washington Consensus dalam bentuk disiplin fiscal, agar APBN ke depan tidak lagi membiayai barang dan jasa publik, liberalisasi dan privatisasi.

Menurut dia, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang ngotot untuk terus menjalankan Washington Consesnsus. Padahal kebijakan berdasarkan konsensus itu telah membuat pemerintah SBY/JK mandul dalam kebijakan pangan, energi dan infrastruktur. Kemandulan itu terbukti dari gagalnya pemerintah menjaga gejolak harga.

Menurut dia, soal privatisasi PLN dan Pertamina adalah suatu keniscayaan. “Ini pertanda bahwa rakyat bukan saja terancam daya belinya, terancam dalam kemiskinan yang meningkat. Bahkan kenaikan harga-harga yang berlanjut dipastikan akan meningkatkan jumlah penduduk miskin di negeri ini.”

Ribuan karyawan PT PLN dari berbagai daerah sudah pernah melakukan demo (Selasa 8 Januari 2008) di depan Istana Merdeka, Jakarta, menolak restrukturisasi perusahaan seperti yang diamanatkan RUPS PLN pada 8 Januari lalu yang meminta direksi melakukan tiga aksi restrukturisasi korporat.

Dihubungi terpisah, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Marwan Batubara menilai upaya pemisahan anak perusahaan PLN akan melanggengkan masuknya asing ke sektor vital sekaligus menguasai sumber daya alam negeri ini.

Ia juga meminta pemerintah membatalkan pemisahan dan penjualan anak perusahaan PLN kepada swasta/asing sampai kapanpun.

Belum Ada Tanggapan to “Liberalisasi Industri Listrik: Karyawan PLN Ancam BlackOut (Pemadaman) Listrik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: