Jayalah Indonesiaku
Potret kejadian di tanah airku , serial code blog : ceBЯaHa

O’on-nya Regulator Postel Indonesia

Pada dasarnya anak negeri ini sudah mampu untuk memproduksi piranti lunak informasi – dengan teknologi tinggi. Malangnya, para penguasa di negeri ini (baca: pejabat – politisi) sama sekali gak sadar babar blas dengan Information Technology, dimana menggunakan produksi anak bangsa tentunya lebih hemat daripada membeli dari luar, tentunya apalagi dengan utangan. Namun hal ini saya bisa memaklumi, karena pada dasarnya bangsa ini adalah bangsa yang lemah, dalam tekanan dunia luar. Namun ini juga berarti kita mempunyai pemimpin-pemimpin yang sama sekali tidak berkualitas, lemah, mudah tertindas, diombang ambingkan situasi eksternal. Belum mampu menelorkan kebijakan untuk mandiri di atas kaki sendiri. Berikut ini kita ikuti pemikiran dari Pak Arnold :

————————-

“Selamatkanlah Bangsa ini dengan menyelamatkan perusahaan2 industri manufaktur telekomunikasi/TIK kita.”

Rekan-rekan Mastel dan rekan-rekan Telematika yang lain,

Pak Setyanto mencuplik salah satu topik nasional yang “maha” penting bagi Indonesia, yaitu industri manufaktur nasional, dhi pesawat terbang.

Industri manufaktur telekomunikasi/TIK sering kita bicarakan dan bela dalam berbagai kesempatan, termasuk regulasi agar misalnya konten lokal dalam setiap lelang 30% berupa konten nasional.

Namun sayangnya kita berpuas diri di situ saja, dan para pengusaha pengikut tender pontang panting mencocok-cocokkan agar patokan angka 30%  terpenuhi, dengan nyata atau hanya fiktif saja.

Saya kira kita semua setuju jika angka patokan pemerintah tsb benar merupakan produksi seluruhnya dalam negeri dan bukan hanya luarnya (asembling) saja, atau hanya menara, dan fasilitas pendukung lainnya saja.

Menghadapi pengenalan-pengenalan (introduction of) teknologi-teknologi masa depan termasuk NGN, sebenarnya kemampuan industri nasional sudah ada. Bahkan sudah dibuktikan sendiri antara lain oleh TKD (Trans Komunikasi Data) dengan kerjasama RISTI TELKOM untuk pengembangan suits lunak (soft switch) NGN, dan kemudian dioperasikan di lapangan secara berhasil oleh TELKOM dan INDOSAT di daerah Sumatera Utara dan lain tempat. Seperti diketahui suits lunak ini adalah teknologi masa depan NGN yang sangat canggih dan merupakan otak dari jaringan dan layanan NGN di kemudian hari.

Dan yang mengesankan kami dari TT-Tel dan teman2 lain, ketika kunjungan ke perusahaan yang sederhana dengan sekitar 50 engineer ini dua tahun lalu, bahwa konten lokal adalah 90% (sembilanpuluh prosen).  Bagaimana caranya menghasilkan chip-chip yang tak dibuat di Indonesia? Mudah saja, desain dibuat sendiri namun chipnya dipesan di mana saja. Jadi nilai dari chip2 integrated circuit dan bungkus perangkat nilainya hanya 10%.

Sudah jelas bahwa kalau ada tender nasional mengenai perangkat suits lunak NGN ini, mereka akan bisa ikut dan memperoleh angka tinggi, bukan?

Ha, ha, ha, meleset dan sekali lagi meleset!!
Jangankan dinilai, diikutsertakan saja tidak, karena tidak memenuhi syarat, kata pemilik tender dan dalam hal ini adalah TELKOM.

Mengapa? Oleh karena yang ikut tender harus yang sudah memiliki pengalaman di dua negara. Ya, sudah, mati kutulah awak. Ini yang namanya “ayam mati kelaparan di lumbung padi.”

 (Dirut TELKOM mengatakan bahwa ada peraturan2 yang membuat dia tak bisa berkutik walaupun mau membantu. Kalau tanya ke Dirjen Postel, dikatakan regulasinya sudah diatur agar konten lokal 30% dsb. Jadi siapa yang bertanggung jawab? Kita semua angkat tangan dan melemparkan kesalahan ke kanan dan ke kiri. Tak ada nurani yang terus membisikkan agar meneruskan dan meningkatkan ke tingkat Menteri atau Kabinet dsti agar ada keputusan yang adil.)
[Telkom itu perusahaan yang sial dari dahulu. Direksinya sering menjadi tumbal karena tak bisa melawan. Tetapi kalau ada yang vokal seperti Cacuk Soedarijanto dan Setyanto langsung ditebas karena tidak setia dengan perintah atasan, jaman Soeharto]

Ya, kalau di negaranya sendiri saja sudah diperlakukan demikian, lah bagaimana dia bisa berkembang.

Kini TKD masih hidup dari remah-remah mengerjakan aplikasi-aplikasi untuk Flexy dan beberapa suits IMS dsb, tetapi dia tidak boleh ikut pesta besar lelang suits NGN (Tahun 2007 yang kemudian ditunda 2008, katanya. Saya berharap agar ditunda terus saja selama industri nasional tidak memperoleh kesempatan adil) Kesempatan langka ini akan sangat menentukan porsi besar bagi masa depannya. Bagaimana perusahaan industri manufaktur nasional bisa menjadi besar kalau para operator yang merupakan pangsa terbesar memberikan rambu-rambu terhadap usaha sesama Bangsa dan lebih mendengarkan ketentuan2 (global?) yang mematikan industri dalam negeri. [ingat bahwa globalisasi= neo-kolonialisme]

TKD pernah ikut suatu tender internasional untuk suits lunak NGN di suatu negara, dia termasuk satu diantara dua yang seharunya menang, namun perusahaan satunya adalah perusahaan Cina  yang pada akhirnya menawarkan tanpa  biaya, gratis. Ya sudah jelas tidak mungkin dikalahkan, bukan? Suatu perusahaan UKM seperti TKD sudah jelas tak mungkin hidup tanpa makan kalau tidak ada kekuatan dana yang mendukung di belakangnya.

[Andaikata TKD itu perusahaan AS, pasti pemerintah AS akan ribut, seperti terjadi ketika perusahaan AS ribut ketika kalah dg NEC untuk suitsing digital nasional kita pada awal 80an. Akhirnya pemerintah Indonesia harus turun tangan dan baru selesai ketika kedua sistem AS dan Jepang sama-sama dimenangkan. Apa ndak main paksa itu namanya, dan “karepe dewe=maunya sendiri”]

Saya sengaja mendompleng pada tulisan pak Setyanto di bawah ini, pertama, karena ini mengenai industri nasional, kedua, karena pak Setyanto pernah jadi Dirut TELKOM (tetapi karena membela yang benar, malah menjadi korban), dan ketiga, sudah saatnya kita bersatu demi kepentingan nasional kita dan  jeli terhadap tipu daya dan cengkraman entitas-entitas multi nasional.

Menapa untuk suits lunak NGN?
Oleh karena NGN adalah jaringan dan layanan masa depan yang luar biasa besarnya dan akan mengubah seluruh jaringan dan ketentuan-ketentuan terkait di masa depan.

Dalam kunjungan kami dari TT-Tel bersama kawan tsb di atas, CEO TKD pernah mengatakan tentang kepemilikan perusahaannya. Andaikatapun TKD diakuisi (oleh perusahaan lain atau suatu konsorsium nasional) mereka bersedia dan siap, katanya. Yang dia pentingkan adalah agar usaha nasional yang sudah demikian jauh ini bisa lestari. Dia juga menambahkan di lain kesempatan, bahwa sebenarnya di belakang dia ada puluhan perusahaan serupa, dan bila ada kesempatan mereka pasti mampu melaksanakannya.

Saya hanya ingin meneruskan aspirasi perusahaan ini dan puluhan perusahaan industri (R&D dan manufaktur)  nasional serupa, yang kalau digabungkan, akan  menjadi kekuatan yang luar biasa. Kita tak usah meniru “Silicon Valley” secara tepat, tetapi intinya saja, yaitu fasilitasi (regulasi, dana, dll) bagi perusahaan nasional, baik itu terkumpul di satu tempat, atau berbentuk suatu konsorsium dengan usaha di masing-masing tempat namun tergabung dalam suatu jaringan R&D dan produksi yang ketat dengan pembagian bidang kerja yang saling mendukung.

Persaingan pada tahap awal agar dihindarkan, dan lebih mementingkan kerjasama untuk melawan raksasa-raksasa yang masuk ke negeri kita, dan kemudian bisa diteruskan ke tingkat regional/internasional kalau sudah kuat secara nasional.

{Menurut mereka pernah suatu perusahaan multi-nasional menggertak mereka dan mengatakan bahwa anda itu perusahaan kecil, bukan di sini bidangnya.
Ini adalah gaya-gaya perusahaan multi-nasional, walaupun besar tetapi kalau melihat terancam akan melakukan segala cara.
Sudah jelas mereka sangat manis dan bersedia berbuat apa saja untuk memenangkan lelang (dan menyingkirkan ancaman dari perusahaan UKM yang tak kalah kemampuannya).

“Selamatkanlah Bangsa ini dengan menyelamatkan perusahaan2 industri manufaktur telekomunikasi/TIK kita.”

APhD

Arnold Djiwatampu

Belum Ada Tanggapan to “O’on-nya Regulator Postel Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: