Jayalah Indonesiaku
Potret kejadian di tanah airku , serial code blog : ceBЯaHa

Arya Gunawan: Laporan Majalah Tempo tentang Kasus Bank Century

Tulisan ini saya ambil dari postingan mas Arya Gunawan, pada milis jurnalisme

————————————————————————————————–

Kawan-kawan,

Sebagaimana yang sudah bisa diperkirakan, MBM Tempo edisi terbaru yang
mulai beredar hari Senin ini, mengangkat kasus Bank Century sebagai
laporan utamanya.
(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/07/LU/mbm.20090907.
LU131350.id.html). Ini memang isu terpanas sepanjang pekan lalu (di
samping, tentu saja, benca gempa bumi yang menimpa sebagian wilayah Jawa
Barat). Saya sudah membaca semua tulisan yang terkait dengan laporan
utama Tempo ini, namun merasa lumayan kecewa karena Tempo relatif tidak
memberikan banyak tambahan informasi berharga apapun (kecuali mengenai
jalannya rapat saat para elit BI dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan,
yang berlangsung sejak Kamis malam 20 November 2008 hingga usai pada
pukul 07.00 pagi keesokan harinya, Jumat 21 November. Rapat ini, menurut
laporan Tempo, berlangsung diwarnai oleh perdebatan sengit dan panas
antara pihak yang setuju dan tak setuju terhadap rencana pengucuran dana
dari LPS untuk menyelamatkan Bank Century).

Secara keseluruhan, nuansa dari laporan utama Tempo ini “memaklumi”
keputusan penyuntikan dana LPS tersebut. Memang, ada sejumlah narasumber
dalam laporan Tempo tersebut yang memiliki pandangan kontra terhadap
putusan itu, namun mereka hanya diposisikan sebagai pengimbang dan
pelengkap belaka. Bahkan kemudian sempat pula dikait-kaitkan bahwa para
penentang ini memiliki persinggungan dengan Wapres Jusuf Kalla
(sama-sama anti pengucuran, sama-sama dari Golkar. Ada satu narasumber
yang non-Golkar, yaitu anggota DPR Dradjad Wibowo, namun disebutkan di
laporan utama Tempo ini Dradjad dekat dengan JK sejak menjadi anggota
tim sukses JK dalam pilpres yang lalu).

Laporan utama Tempo itu seperti tidak merasa berkepentingan untuk
menelusuri beberapa hal penting berikut ini:

a) bagaimana dengan informasi yang sudah disebut-sebut sejumlah kalangan
bahwa ada korporasi besar yang diuntungkan dengan penyuntikan dana LPS
itu? Tidak terlihat ada upaya Tempo untuk “mengejar” dan “menguliti”
informasi lebih jauh, lebih dalam

b) beberapa pihak juga telah menyebut-nyebut bahwa dana untuk Century
itu mengalir ke partai politik tertentu. Sama sekali Tempo tak
mempedulikan informasi ini

c) bagaimana dengan legalitas Perppu yang dijadikan landasan keputusan
KSSK dan LPS, yang dalam pandangan sebagian pihak sudah tak bisa
diberlakukan lagi setelah pertengahan Desember 2008 (padahal pengucuran
dana dari LPS masih berjalan beberapa tahap lagi, melewati patokan waktu
Desember tersebut).

d) apakah mungkin ada kaitan antara peran Boediono sebagai Gubernur BI
ketika itu, dengan keputusan SBY untuk memilihnya menjadi pendampingnya
(Wapres)?

Tempo juga tidak berupaya mengorek lebih jauh informasi dari JK, apa
persisnya latar belakang kebijakan ini. Setidaknya JK sudah kasih
isyarat bahwa jika kasus ini dibuka, maka akan menjadi kotak Pandora
dengan akibat yang luar biasa. JK memang bilang, dia tak mau memberikan
informasi lebih jauh. Namun Tempo seyogianyalah berupaya membujuknya
lebih jauh. Tempo juga tidak berhasil menampilkan Boediono dalam laporan
utamanya ini. Padahal dia adalah tokoh kunci utama dalam keseluruhan
proses pengambilan keputusan pengucuran dana LPS itu.

Last but not least, laporan utama Tempo ini dilengkapi pula dengan kolom
dua halaman dari Bambang Harymurti, di bawah judul “Century:
Astagfirullah atau Alhamdulillah?” Bisa dilihat di sini:
(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/07/KL/mbm.20090907.
KL131320.id.html) (pertanyaan retoris yang sudah langsung dijawab
sendiri oleh penulisnya pada alinea kedua: bahwa keputusan pengucuran
dana untuk Century itu harus disambut dengan ucapan alhamdulillah alias
disyukuri). Aliena-alinea berikutnya membeberkan alasan sang penulis
mengenai kesimpulannya itu. Namun itu tadi, banyak hal yang tidak
digugat lebih jauh dengan kritis oleh sang penulis, termasuk tiga
pertanyaan yang saya sodorkan di atas. Tulisan kolom ini juga banyak
menyinggung soal kehalalan dana LPS untuk tujuan penyelamatan seperti
yang dilakukan terhadap Century, karena LPS memiliki kekayaan sendiri
yang dikumpulkan sejak tahun 2005 (dengan kata lain: tak ada dana rakyat
di sana). Apakah sang penulis lupa bahwa modal awal LPS sebesar Rp 4
triliun adalah dana rakyat?

Saya merasa, orang-orang atawa lembaga-lembaga di bawah ini harus
diupayakan sekuat tenaga oleh kawan-kawan media untuk bisa bicara
mengenai kasus ini:

a) JK

b) PPATK

c) Penyelidik dari BPK yang sudah melakukan audit investigasi
terhadap kasus ini sejak 26 Agustus lalu

d) Boediono

e) Robert Tantular

f) Dua warga negara asing yang menjadi pemilik saham lainnya
(yang kini kabur entah kemana. Apakah pemerintah Indonesia sudah meminta
bantuan Interpol untuk memburu dan menangkap mereka?)

Demikianlah untuk sementara catatan saya terhadap laporan utama Tempo
ini. Kalau kawan-kawan lain sudah ada waktu, saya anjurkan untuk
membacanya juga. Siapa tahu dapat kita bahas lebih jauh di milis ini.
Kalau ada kawan-kawan wartawan MBM Tempo yang aktif di milis kita ini,
tentu ingin juga saya dengarkan informasi atau komentar apapun
darinya/mereka.

Trims dan salam,

Arya Gunawan

Belum Ada Tanggapan to “Arya Gunawan: Laporan Majalah Tempo tentang Kasus Bank Century”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: